Dampak Agresi Belanda di Kabupaten Magetan

Persetujuan Linggarjati tanggal 19 Maret 1947 yang antara lain menyebutkan bahwa Belanda mengakui kekuasaan de fakto dari Republik Indonesia di Pulau Jawa, Madura dan Sumatra. Diartikan oleh Belanda bahwa sebelum Negara Indonesia Serikat terbentuk, Belanda yang berdaulat di Indonesia. Persetujuan Linggarjati dilanggar dengan terang-terangan oleh Belanda, dengan jalan mengadakan serangan sporadis disana-sini yang mengakibatkan melemahnya Republik Indonesia dan mulai membentuk negara boneka dimana-mana serta menjalankan politik devide et impera. Pada tanggal 19 Desember 1948 ibukota Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta diduduki oleh Belanda. Presiden, Wakil Presiden dan beberapa mentri dan pejabat negara ditawan dan diasingkan. Belanda mengira dengan cara ini Republik Indonesia akan berakhir. Tetapi perlawanan terhadap Belanda tidak berakhir, perang gerilya yang dipimpin panglima besar Sudirman terus dilakukan. Demikian pula di Magetan, TNI dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bersama-sama rakyat membuat rintangan jalan dengan cara menebang pohon untuk dirintangkan ditengah jalan, membuat lubang-lubang di jalan penting dan menghancurkan jembatan-jembatan. Gedung-gedung yang diperkirakan akan dapat digunakan sebagai markas Belanda dibumi hanguskan.

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerbu Magetan. Belanda masuk Magetan dari arah barat melalui Tawangmangu Jawa Tengah. Sekalipun jembatan besar di Cemorosewu telah dihancurkan oleh TRIP, tetapi dapat diperbaiki kembali oleh Belanda. Setelah 7 hari berada di Sarangan dan bermarkas di hotel Bergzinct, kemudian menuju ke Magetan. Di Plaosan pasukan Belanda dipecah manjadi dua jurusan yaitu lewat Pacalan dan nDele terus Nitikan. Pasukan kompeni yang lewat Pacalan menjumpai kesulitan, karena jembatan Gemah yang sudah dihancurkan dan mendapat perlawanan sengit dari TNI dan TRIP. Terjalin kerjasama yang kuat antara TNI dan rakyat, terbukti dengan dibuatnya dapur umum yang bertempat dirumah Kepala Desa Slagreng. Dari arah timur, Belanda datang lewat Madiun – Goranggareng – Sundul – Krajan – Ngariboyo. Sampai di Ngariboyo mendapat perlawanan dari TNI dibawah pimpinan Lettu Tatang Soetrisno. Dari arah sebelah utara Belanda datang dari jurusan Simo – Kendal – Panekan – Magetan. Samapi di kota, Belanda tidak melihat adanya kantor Kabupaten karena sebelumnya sudah dihancurkan oleh gerilyawan, dan Pemerintahan Magetan pindah ke luar kota Magetan. Bupati beserta staf hijrah ke dukuh Ngelang Baleasri kemudian ke dukuh Geger Sambirobyong. Disini Bupati Magetan Kodrat Samadikoen dengan staf termasuk Patih Soehardjo ditangkap Belanda waktu tengah malam.

Sekalipun pejabat-pejabat penting tertangkap Belanda, tetapi tidak melemahkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Perang gerilya masih terus dilancarkan pasukan TNI dan rakyat. Pasukan Batalion Sukowati menyebar tenaganya menjadi pasukan-pasukan kecil untuk mengadakan perlawanan secara gerilya.Pemerintahan Militer (KDM) dibagi menjadi dua, yang pertama di selatan sungai Gandong dibawah pimpinan Mayor Soebiantoro dan satunya berada di utara sungai Gandong dibawah pimpinan Letkol Anwar Santosa. Dengan tertangkapnya Mayor Soebiantoro dan pindahnya Letkol Anwar Santosa dari Magetan maka KDM dipimpin oleh Lettu Soedijono. Pimpinan gerilya yang tidak terlupakan oleh masyarakat Magetan antara lain Letnan Paimin, Iskak dan Harjono. Pada awal Nopember 1949 pasukan Belanda yang ada di Parang disergap oleh kompi Letnan Soebandono, kompi Niti Hadisekar dan kompi Kresno yang mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak. Desa Sumberdodol kec. Panekan menjadi tempat berkumpulnya para pimpinan sipil dan militer. Antara lain Bupati Magetan dan Residen Madiun. Rumah Sakit Umum Magetan dipindahkan pula kesana. Pasukan Batalion TNI dibawah pimpinan Komandan Kompi Moch. Jasin pernah berada di desa Jabung.

Demikianlah selama Magetan diduduki Belanda, rakyat dan TNI saling bahu membahu melawan musuh. Pemerintahan Kabupaten yang berada di luar kota, demikian pula pemerintahan Kecamatan tetap berjalan dengan lancar sekalipun harus berpindah-pindah tempat menghindari incaran Belanda. Gerilyawan memblokade bahan makanan terutama beras dan telur dilarang dibawa masuk ke kota. Untuk memperlancar sirkulasi ekonomi dan perdagangan maka dikeluarkan uang kertas yang terkenal dengan nama uang check. Belanda makin terdesak dimana-mana, di kota-kota Belanda tidak merasa aman. Belanda tidak dapat bergerak secara leluasa karena pasukan gerilya dapat menyerang sewaktu-waktu. Serangan paling berani yang dilakukan besar-besaran adalah pada tanggal 1 Maret 1949 ke dalam kota Yogyakarta dan berhasil mendudukinya selama 6 jam oleh TNI. Akhirnya Belanda terpaksa mengambil langkah menuju meja perundingan dengan pihak Indonesia. Tanggal 14 April 1949 diadakan perundingan. Delegasi RI dipimpin oleh Mr. Mohammad Rum sedang Belanda dipimpin oleh Dr. Van Royen. Hasil perundingan antara lain diadakan penghentian tembak menembak dan pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta. Kemudian disusul konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tanggal 23 Agustus sampai 2 Nopember 1949. Delegasi RI dipimpin oleh Dr. Moh. Hatta. Keputusan meja bundar berisi bahwa Belanda mengakui kedaulatan RI sepenuhnya tanpa sarat kecuali Irian Barat. Di Magetan perundingan antara Belanda dan RI berlangsung di Desa Cepoko kecamatan Panekan, perwakilan RI dipimpin oleh Letnan Soebandono. Pada tanggal 26 Oktober 1949 tentara belanda meninggalkan kota Magetan dan pada tanggal 1 Januari 1950 pemerintahan yang berada di pedalaman kembali ke dalam kota.

Setelah kurang lebih dua bulan Kepala Pemerintahan Magetan dijabat saat itu oleh Kodrat Samadikun. Pada pertengahan Pebruari 1949 Bapak Kodrat Samadikun ditangkap oleh Belanda di desa Sambirobyong dan kemudian Belanda mendirikan pemerintahan federal di Magetan tetapi ruang geraknya hanya terbatas di kota Magetan dan Maospati saja. Dengan adanya penangkapan ini Pemerintah Kab. Magetan terjadi kevakuman terlebih lagi setelah tanggal 21 April 1949, Mayor Subiyantoro selaku komandan KDM bersama para staf ditangkap juga oleh Belanda. Dengan adanya kevakuman itu maka Komandan STM (Sub Teritorium Militer) Madiun yang saat itu dipimpin oleh Letkol Marjadi pada tanggal 25 April 1949 menunjuk Lettu Sudijono sebagai komandan KDM dan beberapa perwira lainnya sebagai staf yang semuanya berasal dari Batalion Yudo. Pada saat itu mulailah Komandan KDM Lettu Sudijono menyusun kembali Pemerintahan Darurat Sipil RI dengan memerintahkan saudara R. Ismail, Soewarno dan Suwito yang masih berada di kota Magetan untuk menghadap ke markas. Setelah menghadap, pada tanggal 23 Mei 1949, kepada mereka diberi tugas sebagai berikut : M. Doellah sebagai Sekretaris Kabupaten, R. Ismail sebagai Asisten Wedono di Kab. Magetan, Soewarno dan Soewito sebagai staf. Tugas utama adalah menyusun kembali Pemerintahan Sipil dan kemudian tersusunlah Pemerintahan Sipil sbb :

  1. M. Ilham sebagai Wakil Bupati

  2. M. Doellah sebagai Sekretaris

  3. R. Ismail sebagai Ass. Wedono

  4. M. Prawoto sebagai Kepala PDK

  5. Soewandi sebagai Kepala Japen

  6. Soemardi sebagai Ka Din Perindustrian

  7. Sarbini sebagai Camat Magetan

  8. Moestajab sebagai Camat Panekan

  9. Harsono sebagai Camat Plaosan

  10. Hardjosoewignjo sebagai Mantri Polisi

  11. Saekon sebagai A W Parang

  12. Ledoeng sebagai A W Lembeyan

  13. Sanoesi sebagai A W Kawedanan

  14. Imam Soefaat sebagai A W Bendo

  15. Sarman sebagai A W Takeran

  16. Benoe sebagai A W Maospati

  17. Koesoemo Hadiprodjo sebagai A W Karangrejo

  18. R. Abdollah sebagai A W Karangmojo

  19. Soerat sebagai A W Sukomoro

  20. Koesman sebagai A W Poncol

Dan semua dapat berhasil jika didukung oleh :

  • Dukungan penuh dari rakyat

  • Kerjasama yang erat antara sesama instansi terutama antara sipil dan militer, pemerintah dengan rakyat

  • Jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan serta gotong-royong yang tinggi

  • Kejujuran, keuletan daya juang yang tinggi dari para petugas Negara RI

Sehingga lahir semboyan :

  • Lebih baik hancur lebur dari pada dijajah kembali

  • Merdeka atau mati

  • Jer Basuki Mowo Beo

  • Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Sebuah peristiwa yang perlu dicatat ialah pada saat akan diadakan ulang tahun kemerdekaan RI yang ke IV, guna melumpuhkan pemerintah Federal di kota oleh Komandan KDM dikeluarkan instruksi agar para pegawai yang berada di kota Magetan semua keluar karena kota Magetan akan digempur. Instruksi tersebut ditaati oleh para pegawai Federal dan mereka keluar menggabungkan diri pada pemerintah RI. Untuk menjamin kelangsungan hidup aparat pemerintah RI dan untuk mengelola jalannya pemerintahan maka pemerintah mengadakan pungutan-pungutan yang berupa pajak innatura, retribusi pasar, dana atas ijin perusahaan yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada saat KDM membutuhkan keuangan maka kebutuhan tersebut dicukupi oleh KDM yang memiliki persediaan cukup. Dengan mengikuti taktik dan strategi militer yang ditentukan oleh KDM maka kantor Pemerintahan RI Kab. Magetan selalu berpindah-pindah tempat, seperti :

  • Dari Gemawang ke Bogang desa Ngunut

  • Dari Bogang ke Blimbing desa Ngunut

  • Dari Blimbing ke Wadung Parang

  • Dari Wadung ke Ngariboyo Kec. Magetan pada akhir Oktober 1949

Add new comment

The comment language code.

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.