Kabupaten Magetan Pada Zaman Penjajahan Belanda

Kabupaten Magetan dibawah pimpinan Bupati Yoso Negoro mengalami kehidupan yang tenang, semakin lama semakin ramai dan berkembang. Beliau sangat bijaksana dan berpandangan jauh. Mataram sebagai tanah kelahirannya tidak rela dijajah oleh kompeni Belanda. Beliau banyak mencurahkan perhatiannya pada kesejahteraan rakyat dan keamanan daerah Magetan. Beberapa tahun kemudian Magetan dilanda bencana alam kekurangan bahan makanan. Sehingga banyak timbul perampokan-perampokan. Kerena meluasnya berandal yang sulit diatasi, maka beliau memberanikan diri mohon bantuan ke pusat pemerintahan Mataram. Dari bantuan Mataram ini akhirnya situasi bisa diatasi dan keamanan daerah pulih kembali. Tidak lama kemudian beliau wafat, beliau beserta istrinya dimakamkan di makam Setono Gedong di desa Tambran Kecamatan Magetan.

Setelah Bupati Yosonegoro wafat pada tahun 1703, beliau digantikan oleh Raden Ronggo Galih Tirtokusumo. Setelah wafat beliau dimakamkan di Durenan Kecamatan Plaosan. Setelah Ronggo Galih maka bupati berikutnya adalah Raden Tumenggung Mangunrana. Beliau menjadi Bupati dan berakhir pada tahun 1730. Dan setelah wafat dimakamkan di Pacalan. Bupati selanjutnya adalah Raden Tumenggung Citradiwirya. Beliau menjabat Bupati di Magetan selama 13 tahun dan berakhir pada tahun 1743. Setelah R.T. Citradiwirya sebagai Bupati, penggantinya adalah Raden Arya Sumaningrat. Beliau menjabat Bupati di magetan selama 12 tahun, yaitu dari tahun 1743 sampai 1755.

Telah diuraikan di muka, bahwa dengan semakin berkobarnya pemberontakan Trunojoyo yang didukung oleh orang-orang Makasar dan pengikut Sunan Gir. Satu demi satu daerah Mataram jatuh ketangan Trunojoyo, mulai dari Madura, Suropringgo (Surabaya) dan seterusnya seluruh pesisir utara pulau Jawa. Dalam waktu singkat pusat pemerintahan Mataram di Pleret (sebelah selatan Yogyakarta) jatuh ke tangan Trunojoyo pada tanggal 2 Juli 1677. Sultan Amangkurat I melarikan diri dan wafat di Tegalwangi (Kabupaten Tegal Jawa Tengah).

Seluruh benda-benda penting (alat upacara kerajaan) diboyong ke Jawa Timur. Pusat kerajaan Mataram dipindahkan ke Kediri dibawah kekuasaan Trunojoyo. Selanjutnya Sultan Amangkurat I digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat II. Dengan bantuan kompeni Belanda beliau berhasil memadamkan pemberontakan Trunojoyo.Trunojoyo berhasil ditangkap dan dibunuh. Pusat keraton Mataram pindah ke Kartosuro pada tahun 1681. Keadaan dalam negeri Mataram dan pusat pemerintahan Mataram belum benar-benar tenteram. Pada situasi ini terjadilah pemberontakan Untung Suropati terhadap Mataram (tahun 1684) yang memusatkan tentaranya di Pasuruan.

Pemberontakan terhadap Mataram tersebut disebabkan oleh sikap Sunan Mas (Sultan Amangkurat III) yang sangat radikal anti kepada kompeni Belanda yang pada waktu itu sangat besar kekuasaannya di pemerintahan Mataram. Sikap Sunan Mas yang demikian menyebabkan beberapa bangsawan keraton Mataram lebih setuju untuk mengangkat Pangeran Puger (Paman Sunan Mas) sebagai raja Mataram. Niat ini dilaksanakan dengan meminta bantuan Belanda di Semarang. Belanda menyanggupkan bantuan asal Cilacap dan Madura sebelah Timur (daerah mancanegara Mataram) diserahkan kepada Belanda. Pusat pemerintahan Mataram diserang oleh Belanda bersama tentara Pangeran Puger. Sunan Mas (Amangkurat III) melarikan diri dari Kartosuro ke Pasuruan Jawa Timur dan bergabung dengan Untung Suropati.

Pada saat-saat transisi di pemerintahan Mataram inilah, Magetan sebagai daerah mancanegara Mataram yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, berada dibawah perintah seorang penguasa daerah yang bergelar Adipati, yakni Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat. Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat adalah putra dari Raden Tumenggung Sasrawinata yaitu bupati Pasuruan yang wafat di Pasuruan dan keturunan dari Panembahan Cakraningrat I yang wafat pada tahun 1630 di Kamal yang kemudian dimakamkan di Astana Hermata Madura. Tugas beliau yang pertama adalah mengamankan daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, lebih tepatnya daerah Magetan jangan sampai terkena kekacauan akibat perang saudara di pusat pemerintahan Mataram. Sebelum menjabat Bupati Magetan beliau adalah seorang Tumenggung yang menjabat Bupati di Kertosono.

Pemerintahan Kabupaten Magetan dibawah Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat menjadi tentram dan wilayah pemerintahan menjadi daerah mancanegara dari Mataram. Beliau berkesimpulan bahwa para raja Mataram didalam batinnya tidak senang kepada Belanda, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Kebencian terhadap kompeni dikaitkan dengan pemberontakan terus menerus terhadap pusat pemerintahan yang berada dibawah pengaruh Belanda. Beliau anti kepada Belanda, namun mengingat kemempuan yang ada dan melihat kejadian-kejadian yang dialami pemerintahan Mataram, maka beliau lebih memusatkan perhatian kepada kesejahteraan rakyat Magetan. Sampai beliau wafat, Magetan dalam keadaan aman. Kehidupan rakyat tentram walaupun Mataram mengalami kekisruhan akibat perang saudara yang disebut sebagai suksesi oorlog oleh para ahli sejarah. Jenazah Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat dimakamkan di tanah bekas perdikan desa Pacalan Kecamatan Plaosan. Sedangkan makam Nyai Mas Purwodiningrat terletak di bekas perdikan desa Pakuncen wilayah Kertosono. Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat menurunkan dua orang putri yaitu :

  • Pertama, Putri Sepuh Gusti Kanjeng Ratu Kedaton garwo dalem Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II.

  • Kedua, Putri Anom Gusti Kanjeng Ratu Anom, garwo dalem Pangeran Paku Alam yang kemudian disebut Gusti Kanjeng Paku Alam I.

Bupati Magetan berikutnya setelah wafatnya Bupati Kanjeng Kyai Purwodiningrat ialah Bupati Raden Tumenggung Sasradipura. Beliau wafat pada tahun 1825. Bupati selanjutnya adalah Raden Tumenggung Sasrawinata. Pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Sasrawinata (wafat tahun 1837) ini terdapat peristiwa-peristiwa penting, yaitu :

  • Pada tanggal 4 Juli 1830 atau 3 Sura tahun Je 1758, Belanda mengadakan konferensi di desa Sepreh (Ngawi), dengan mengundang semua Bupati Mancanegara Wetan. Ketetapan konferensi itu bahwa semua Bupati Mancanegara Wetan harus menolak kekuasaan Sultan Yogyakarta dan Susuhunan Surakarta dan mulai saat itu harus tunduk kepada Belanda di Batavia. Sejak tahun 1830 Kabupaten Magetan menjadi daerah jajahan Belanda.

  • Kabupaten Magetan dipecah menjadi 7 daerah Kabupaten , yaitu :

    • Kabupaten Magetan I (kota) dengan Bupati R.T. Sasrawinata

    • Kabupaten Magetan II (Plaosan) dengan Bupati R.T. Purwawinata

    • Kabupaten Magetan III (Panekan) dengan Bupati R.T. Sastradipura

    • Kabupaten Magetan IV (Goranggareng Genengan) dengan Bupati R.T. Sasraprawiro yang berasal dari Madura.

    • Kabupaten Magetan V (Goranggareng Ngadirejo) dengan Bupati R.T. Sastradirya

    • Kabupaten Maospati (setelah ditinggalkan oleh Bupati wedana R. Ronggo Prawiradirja), Bupatinya R.T. Yudaprawiro.

    • Kabupaten Purwodadi, Bupatinya R. Ngabehi Mangunprawiro (sejak tahun 1825 disebut R. Ngabehi Mangunnagara).

Pada tahun 1837 Kabupaten Magetan II dan Magetan III dihapuskan dan dijadikan satu dengan Kabupaten Magetan I, kemudian pada tahun 1866 Kabupaten Goranggareng dihapuskan dan pada tahun 1870 Kabupaten Purwodadi dihapuskan. Berturut-turut yang menjabat Bupati di Purwodadi adalah :

  • R. Ng. Mangunprawiro alias R. Ng. Mangunnagara

  • R. T. Ranadirja

  • R. T. Sumodilaga

  • R. T. Surakusumo

  • R. M. T. Sasranegara (1856-1870)

Pada tahun 1880 Kabupaten Maospati akhirnya juga dihapuskan.

Sesudah Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat, yang menjabat Bupati Magetan di antaranya adalah Raden Tumenggung Sasradipura, masih kerabat Sultan Hamengkubuwono II dan ketentraman Magetan semakin terganggu akibat perang saudara di pusat pemerintahan Mataram. Dan pada tahun 1742 Raden Mas Garendi (cucu Sunan Mas) menyerbu keraton Kartosuro sehingga Paku Buwono II meloloskan diri ke Magetan lewat Tawangmangu dan menuju Ponorogo (Jawa Timur).

Pada masa pangeran Mangku Bumi (saudara dari Paku Buwono II) memberontak pemerintahan Mataram di bawah Paku Buwono II, maka dengan campur tangan kompeni Belanda, perselisihan ini diakhiri dengan diadakannya perjanjian Gianti pada tanggal 13 Desember 1755. Adapun hasil dari perjanjian Gianti adalah Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua bagian yaitu :

  • Mataram dengan ibu kota Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi, menyatakan diri sebagai Susuhunan Ing Mataram, bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tanggal 11 Desember 1749. Dan selanjutnya daerah ini disebut Kasultanan.

  • Mataram dengan ibu kota Surakarta di bawah Paku Buwono III (putra Paku Buwono II). Dan selanjutnya daerah ini disebut Kasunanan.

Sebagai akibat perpecahan wilayah kerajaan Mataram tersebut perlu diuraikan tentang pembagian dan susunan Mataram. Kerajaan atau negara terdiri atas tiga bagian yaitu :

  1. Nagara yaitu kota atau tempat kedudukan raja.

  2. Nagara Agung yaitu daerah-daerah disekitar kota tempat kedudukan raja.

  3. Mancanegara yaitu daerah-daerah diluar Nagara dan Nagara Agung.

Bupati Mancanegara tersebut dikepalai oleh seorang Bupati Wedana (Bupati Kepala). Daerah-daerah Mancanegara Yogyakarta dan Surakarta meliputi daerah-daerah berikut :

Mancanegara Yogyakarta: Maduin, Magetan, Caruban, separuh Pacitan, Kertosono, Kalangbret, Ngrawa (Tulungagung), Japan (Mojokerto), Bojonegoro, Gerobogan.

Mancanegara Surakarta : Jogorogo, Ponorogo, Separuh Pacitan, Kediri, Blitar, tambah Srengat dan Lodoso, Pace (Nganjuk-Brebek), Wirosobo (Mojoagung), Blora, Banyumas dan Keduwang.

Sejak itu Bupati yang memerintah Kabupaten Magetan berturut-turut sebagai berikut :

Tahun 1837 : Raden Mas Arja Kertonegoro

Sebelumnya menjabat Bupati Mojokerto. Tugas utamanya menentramkan masyarakat Magetan dari insiden-insiden yang terjadi. Beliau hanya menurunkan seorang putri yang menikah dengan Raden Mas Arya Surohadiningrat II Bupati Ponorogo yang dimakamkan di Gondoloyo (Ponorogo).

Tahun 1862 : Raden Mas Arja Hadipati Surohadiningrat

Sebagai Bupati Magetan menggantikan Raden Mas Arja Kertonagara

Tahun 1887 : Raden Mas Arja Kerto Hadinegoro

Adalah putra laki-laki dari Raden Mas Arya Surohadiningrat, oleh masyarakat Magetan dikenal dengan sebutan Gusti Ridder.

Tahun 1912 : Raden Mas Arya Hadiwinoto

Beliau adalah putra dari Raden Mas Arja Kerto Hadinegoro.

Tahun 1938 : Raden Mas Tumenggung Surjo

Beliau adalah putra menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto. Setelah menjabat Bupati Magetan beliau menjabat Su Cho Kan Bojonegoro pada tahun 1943 dan Gubernur Republik Indonesia pertama Jawa Timur mulai tahun 1945 sampai dengan tahun 1948. Beliau gugur pada tanggal 13 Nopember 1948 waktu berkobarnya pemberontakan PKI Madiun dimana dalam perjalanan beliau dari Yogyakarta ke Surabaya, ditengah perjalanan di hutan jati Peleng Kecamatan Kedunggalar Kab. Ngawi dihadang dan dibunuh oleh pemberontak PKI. Para Bupati tersebut diatas dimakamkan di makam Sasono Mulyo Sawahan Magetan.

Tahun 1943 : Raden Mas Arja Tjokrodiprojo