Aktualisasi MAYANGSARII (Magetan Sayang Remaja Ibu dan Bayi) untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi.

MAGETAN-Dalam rangka akselerasi penurunan AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB ( Angka Kematian Bayi) di Kabupaten Magetan, Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan bekerja sama dengan PKK  mengadakan orientasi pada Kader MAYANGSARII (Magetan Sayang Remaja, Ibu  dan Bayi).

Pada tahun 2017 Dinkes telah melatih kader sebanyak 120 orang dari 10 puskesmas, dan pada Tahun 2018 Dinkes melatih 100 orang kader dari 12 puskesmas yang dibagi menjadi dua angkatan. Adapun pelaksanaan Pelatihan Kader MAYANGSARII angkatan I telah dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 23 Maret 2018 lalu. Pelatihan tersebut diikuti 6 Puskesmas  yakni, Ngariboyo, Plaosan, Sumberagung, Parang,   Gorang-gareng Taji dan Tladan. Kedepannya akan diadakan orientasi kader untuk 6 puskesmas yang belum mempunyai Kader MAYANGSARII terlatih.

Dengan semboyan Remaja Hebat, Ibu Selamat, Bayi Sehat, Bangsa Kuat, diharapkan Kader MAYANGSARII adalah kader yang lebih mengerti, lebih mampu menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan remaja  ibu dan anak terutama dalam hal pendampingan terhadap ibu hamil resiko tinggi,  sehingga membantu pemerintah dalam upaya penurunan AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) khususnya di Kabupaten Magetan.

Adapun data Angka Kematian Ibu (AKI)  di Kabupaten Magetan Tahun 2015 sebesar 59,80/100.000 Kelahiran Hidup (KH), Tahun 2016 sebesar 106, 62 per 100.000 KH dan pada Tahun 2017 sebesar 97,57 per 100.000 KH. artinya AKI di Kabupaten Magetan dalam kondisi fluktuatif (tidak stabil).

Sementara Angka Kematian Bayi (AKB) pada tiga tahun berturut turut yaitu tahun 2015 sebesar 10,53/1000 KH, Tahun 2016 adalah 10,89/1000 KH dan Tahun 2017 sebesar 10,37/1000 KH, angka-angka tersebut masih stagnan atau cenderung stabil, tidak ada penurunan secara signifikan.

Di sisi lain, data kehamilan remaja di Kabupaten Magetan Tahun 2017 masih relatif tinggi yaitu 92 remaja dari total 3314 remaja yang ada di Kabupaten Magetan.

Kondisi tersebut dipengaruhi  antara lain kurangnya keterlibatan masyarakat terutama terhadap ibu hamil resiko tinggi dan kurangnya pemanfaatan  Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) baik oleh masyarakat dan fasilitas kesehatan swasta. Dan bila tidak dilakukan upaya perbaikan, akan berdampak pada penurunan kualitas  Sumber Daya Manusia (SDM)  yang akan dilahirkan pada masa yang akan datang. (Ayu)

  • Aktualisasi MAYANGSARII
  • Aktualisasi MAYANGSARII
  • Aktualisasi MAYANGSARII
  • Aktualisasi MAYANGSARII
  • Aktualisasi MAYANGSARII
  • Aktualisasi MAYANGSARII